Sunday, May 22, 2005

Biarkan Senja Meredup


(photo source: http://snaarman.blogspot.com/2011/12/balancing-act.html)

Jangan nyalakan kunang-kunang malam yang meredup
Ketika kelanaku terlalu jauh
Biarkan senja menghamburkan butir-butir kepedihannya
Menghampar namanya di atas permadani kalbuku
Dan sayap ribuan kuda putih menerbangkanku ke surganya
Dia yang selalu dan selalu kurindu

Izinkan aku tertidur
Memeluk auranya dalam napas senja yang membatu
Mengurai kembali jaring-jaring yang menyekap bayangnya

Aku rindu
Rindu tenggelamnya mentari kala langitku dulu masih jingga
Rindu hembusan angin yang terbangkan kuda tuanya
Yang merangkulku bersamanya dalam arakan awan-awan merah
Dulu, di antara surga dan lampu-lampu kota.

Jangan nyalakan kunang-kunang malam yang t’lah redup itu
Aku masih ingin terpejam dan membisu
Memeluk auranya dalam tidurku.

No comments:

Post a Comment