Tunas tumbuh 'tuk kembali menjadi humus.
Retak kaca oleh daya yang memerkosa jarak di antara mereka.
Ruang itu ada, senyata raga kita.
Dan waktu melahirkan sejarah,
menjadikan hening dan badai mulai dan usai.
Waktu itu nyata,
senyata detik-detik jarum jam yang berdansa di balik kaca.
Dan masih, ada rindu yang tetap sama,
sebongkah nada yang hanya membeku di udara,
di tengah-tengah waktu yang lelah bersaksi,
pasrah dan mematung, mati,
seakan tak pernah tercipta waktu sama sekali.
Aku tak mengerti.
Jika waktu dan ruang bukanlah ilusi,
di sini kau untukku akan ada,
dan saat ini 'ki-ta' akan bersama,
bukan sepatah kata terpisahkan jeda.
No comments:
Post a Comment