Tuesday, August 23, 2005

Tujuh Jam – di Sana, di Sini

Cemara menggigil
Mengertakan daun-daun hijaunya yang kedinginan
Tujuh meter dari sana, di barat daya
Air hujan tergelincir di kaca jendela
Meluncur tak henti
Sampai menabrak, merembes ke dalam potongan kayu mahoni

Tujuh jam dari sini, di sela-sela keramaian kota
Sepiring haggis dan segelas Johnnie Walker
Dan lagu Deacon Blue terdengar samar-samar;
Seorang pria memandang keluar kedai
Memperhatikan Derek Finnieston dan Jembatan Kingston yang basah
Di bawahnya, lingkaran-lingkaran air menyebar di permukaan Sungai Clyde
Sementara di tikungan jalan di sebelah timur
Beberapa remaja meneguk sekaleng Irn-Bru
Mengacuhkan gerimis yang membasahi puncak Tugu Nelson di Glasgow Green

Melangkah ke negri sebelah,
Big Ben menunjuk angka empat
Tetes-tetes hujan menyelami kedalaman Sungai Thames
Sebagian jatuh di atas kap-kap mobil di Whitehall
Seolah berenang, mengikuti arus ke Downing Street
Sebagian lagi berloncatan dengan pancuran air mancur di Trafalgar Square
Melongok singa-singa perunggu dan Tiang Nelson
Dan mungkin, juga menyapa tetes hujan lainnya
Yang berseluncuran di payung-payung para turis

Tujuh jam; Paris van Java
Di rumah tua di Jalan Braga
Segelas bajigur, kacang tanah dan kursi rotan
Seorang kakek merindukan makan sate
Sedang di trotoar dan perempatan jalan
Pengemis dan tukang becak berlomba-lomba ke kolong jembatan
Sendal bolong, baju usang dan sekeping uang logam
Lampu-lampu jalan tanpa bohlam
Dan di sebelahnya air sungai siap meluap

Tujuh jam – di sana, di sini
Malam, sore tanpa mentari
Hujan masih turun dari angkasa yang sama
Membasahi daun, sungai dan luasnya kota.

No comments:

Post a Comment